Minggu, 14 April 2013

Hormon -hormon yang Mempengaruhi proses Laktogenesis


Hormon -hormon yang Mempengaruhi proses Laktogenesis
Laktogenensisi adalah Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran susu
Pengaruh Hormonal Mulai dari bulan ketiga kebuntingan, tubuh memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya susu dalam ambing.
Hormon yang mempengaruhi proses laktogenensi yaitu
1.      Progesteron: mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran
2.      Estrogen: menstimulasi sistem saluran ambing untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui.
3.      Follicle stimulating hormone (FSH)
4.      Luteinizing hormone (LH)
5.      Prolaktin: berperan dalam membesarnya alveoil dalam kebuntingan
Prolaktin adalah proteohormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitaria anterior. Kelenjar tersebut merangsang permulaan laktasi (laktogenesis) pada kelenjar susu dan proliferasi epitelium yang melapisi kelenjar tembolok pada burung merpati betina dan jantan. Hormon tersebut mempertinggi produksi zat yang menyerupai keju; terdiri dari sel-sel epitel yang telah hancur. Hormon tersebut menimbulkan sifat mengeram pada induk ayam, merangsang naluri induk pada tikus dara dan esensial dalam pemeliharaan laktasi (galactopoiesis). Di dalam sel-sel epitel terdapat enzim-enzim yang esensial yang menggertak sel-sel dalam mengubah susunan darah menjadi susu. Fungsi prolaktin ialah merangsang aktivitas enzim dan enzim tersebut selanjutnya menggertak sekresi susu. Sel kelenjar susu tidak berdaya menghasilkan susu bila tidak ada prolaktin. Pada masa kebuntingan yang lanjut terjadi kenaikan bertahap dalam sekresi prolaktin yang dirangsang oleh estrogen.
6.      Oksitosin: mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras susu menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down / milk ejection reflex.
7.      Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kebuntingan, plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan ambing, puting, dan areola sebelum melahirkan.

pada laktogenesis II Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi susu besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II
Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi..
Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection / let-down reflex). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara untuk memeras ASI keluar. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya susu dengan berbeda-beda, beberapa merasakan geli di payudara dan ada juga yang merasakan sakit sedikit, tetapi ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara bayi, sehingga terjadi kebocoran. Bila ovulasi terjadi, maka folikel berkembang menjadi korpus luteum dan memproduksi progesteron, yang menyebabkan perkembangan sistema lobul-alveolar.
Kelenjar pituitaria mengeluarkan hormon gonadotropin yang bekerja terhadap ovarium untuk merangsang siklus estrus. Pertama-tama follicel stimulating hormone (FSH) menyebabkan folikel ovarium berkembang. Pada saat tersebut, estrogen dikeluarkan, hormon ini bekerja terhadap sistem duktus dari kelenjar susu. Sebagai tambahan, telur atau ovum menjadi dewasa. Kemudian luteinizing hormone (LH) dikeluarkan dari pituitaria untuk menimbulkan ovulasi (melepas ovum) dan pembentukan korpus luteum. Bila hewan bunting, maka hormon ketiga, yang disebut luteotropic hormon dikeluarkan oleh pituitaria anterior yang memelihara aktivitas korpus luteum dan sekresi progesteron selama pertengahan pertama kebuntingan. Progesteron mempersiapkan uterus untuk menerima telur yang sudah dibuahi dan memelihara embrio dan fetus yang sedang tumbuh di dalam uterus. Pada beberapa spesies, plasenta mengeluarkan luteotropin selama pertengahan kedua dari kebuntingan. Pada spesies lainnya plasenta mengeluarkan estrogen dan progesteron, karenanya spesies tersebut tidak memerlukan hormon luteotropik selama kebuntingan. Pada sapi yang bunting, hormon estrogen dan progesteron yang dikeluarkan plasenta merangsang pertumbuhan sistem lobul-alveolar kelenjar susu.
Dengan menggunakan hormon estrogen dan progesteron, kelenjar susu hewan betina dara dapat ditumbuhkan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat dibuat berlaktasi. Oleh karena itu dimungkinkan secara buatan, merangsang pertumbuhan kelenjar susu dan menyuruh kelenjar tersebut mengeluarkan susu. Dengan merangsang laktasi pada sapi-sapi dara dan sapi-sapi betina yang mandul, para peternak dapat memperoleh produksi yang tinggi dari hewan-hewan yang tadinya disediakan untuk dipotong.
Pengaturan hormon laktasi. Fisiologi kelenjar susu erat hubungannya dengan mekanisme hormonal dan neuro hormonal. Kelenjar susu merupakan sifat kelamin sekunder perkembangannya, permulaannya, dan pemeliharaannya, aktivitasnya, dan akhirnya involusinya, tergantung daripada keseimbangan hormonal. Sejumlah hormon mempengaruhi intensitas laktasi. Hormon merupakan perangsang laktasi satu-satunya. Laju sekresi hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu dan laktasi adalah lebih tinggi sapi perah daripada sapi daging.
Mekanisme fisiologi yang mengawasi berbagai kelenjar tersebut belum diketahui secara lengkap, akan tetapi telah diakui bahwa aktivitas ovarium, uterus dan kelenjar sususatu dengan yang lainnya ada hubungannya. Telah diakui bahwa rangsangan esensial bagi pertumbuhan dan berfungsinya kelenjar susu adalah hormonal dan bukan oleh kelenjar urat syaraf dan bukti menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga hormon yang terlibat di dalamnya. Setiap hormon mempunyai fungsi yang esensial dan ketiga-tiganya bekerja dalam urutan tertentu.
Estradiol, suatu hormon dari folikel Graff, mula-mula menyebabkan perkembangan duktus. Kemudian progesteron dari korpus luteum bertanggung jawab atas pertumbuhan alveoli. Akhirnya laktogen (prolaktin) dari kelenjar pituitaria menimbulkan aktivitas sekresi.
Prolaktin adalah proteohormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitaria anterior. Kelenjar tersebut merangsang permulaan laktasi (laktogenesis) pada kelenjar susu dan proliferasi epitelium yang melapisi kelenjar tembolok pada burung merpati betina dan jantan. Hormon tersebut mempertinggi produksi zat yang menyerupai keju; terdiri dari sel-sel epitel yang telah hancur. Zat tersebut dikenal dengan nama susu tembolok; digunakan untuk menyusui anak-anak merpati. Prolaktin disebut juga laktogen, luteotrpin, galaktin, dan mammotropin. Hormon tersebut menimbulkan sifat mengeram pada induk ayam, merangsang naluri induk pada tikus dara dan esensial dalam pemeliharaan laktasi (galactopoiesis). Di dalam sel-sel epitel terdapat enzim-enzim yang esensial yang menggertak sel-sel dalam mengubah susunan darah menjadi susu. Fungsi prolaktin ialah merangsang aktivitas enzim dan enzim tersebut selanjutnya menggertak sekresi susu. Sel kelenjar susu tidak berdaya menghasilkan susu bila tidak ada prolaktin. Pada masa kebuntingan yang lanjut terjadi kenaikan bertahap dalam sekresi prolaktin yang dirangsang oleh estrogen. Pelepasan eksitosin pada tiap-tiap pemerahan susu diduga merangsang sekresi prolaktin. Prolaktin secepatnya dilepaskan ke dalam darah mengikuti rangsangan pemerahan. Hormon tersebut masuk lewat darah ke dalam kelenjar susu, merangsang sel-sel epitel untuk mengeluarkan susu di antara waktu pemerahan. Lebih banyak prolaktin akan dikeluarkan dan berkumpul dalam pituitaria anterior di antara waktu pemerahan, akan tetapi hormon tersebut tidak akan dilepaskan ke dalam peredaran darah sampai waktu pemerahan berikutnya.

Sumber
Anggorodi, Prof. Dr.R.1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama
http:\\id.wikipedia.org\wiki\menyusui.htm 
http:\\www.idai.or.id

Semple research


PENAMBAHAN  TAUGE KACANG HIJAU (Vigna radiata) DALAM
RANSUM TERHADAP SIFAT REPRODUKSI  MENCIT PUTIH (Mus musculus).

PENDAHULUAN

Mencit merupakan hewan mengerat berukuran lebih kecil daripada tikus dan  sering digunakan sebagai hewan percobaan. Alasan terpenting digunakannya mencit  sebagai hewan percobaan adalah mencit memiliki kesamaan secara fisiologis dengan  hewan lainnya terutama hewan mamalia sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai hewan penelitian. Keunggulan lainnya antara lain mudah dalam penanganan,  siklus hidup pendek, pengadaan hewan ini tidak sulit dan pola reproduksinya yang  singkat.
            Pakan merupakan faktor terpenting dalam pemeliharaan hewan, karena itu
perlu dilakukan pengembangan untuk menghasilkan pakan yang lebih efisien. Salah  satu cara yang biasa dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah memodifikasi  pakan dengan penambahan bahan tertentu agar mendapatkan produksi yang optimal.  Bahan yang berasal dari alam baik untuk digunakan sebagai pakan karena jarang  menimbulkan residu di tubuh, namun dapat meningkatkan metabolisme.
Tauge kacang hijau (Vigna radiata) dipercaya sebagai bahan pangan yang mampu  mempertahankan fertilitas pada pejantan. Hal tersebut terkait dengan kandungan antioksidan  vitamin E yang dominan disamping antioksidan lain seperti vitamin C dan selenium.  Antioksidan berfungsi melindungi sel dari serangan radikal bebas pada saat Spermatogenesis.
TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh taraf penambahan Tauge kacang hijau (Vigna radiata) dalam ransum terhadap sifat reproduksi mencit,  sehingga didapatkan taraf optimum penggunaannya.

MANFAAT

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia peternakan,  dimana Tauge kacang hijau (Vigna radiata)  sebagai pakan dapat meningkatkan sifat reproduksi mencit dan mungkin dapat juga memberikan respon yang sama pada  ternak lainnya.

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tauge             kacang hijau (Vigna radiata)

      Merupakan kecambah yang berasal dari biji  kacang hijau. Perkecambahan tersebut menyebabkan tauge kacang hijau kaya dengan zat  yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Sayuran yang terbentuk melalui proses  perkecambahan ini ternyata dapat mencegah berbagai macam penyakit dan mampu  mempertahankan fertilitas pada individu jantan (Astawan, 2003). Perubahan bentuk dari biji menjadi tauge ditujukan untuk diversifikasi produk serta meningkatkan nilai gizi yang terkandung. Tauge mempunyai vitamin lebih banyak dibandingkan dengan bentuk bijinya. Selama berkecambah, kadar vitamin B meningkat 2,5 sampai 3 kali lipat. Demikian juga dengan vitamin E, mengalami peningkatan dari 24-230 mg per 100 gram biji kering menjadi 117-662 mg per 100 gram kecambah. Vitamin C yang tidak terdapat dalam biji kedelai, mulai terbentuk pada hari pertama berkecambah hingga mencapai 12 mg per 100 gram setelah 48 jam (Anonim, 2010).
Pemanfaatan tauge kacang hijau sudah banyak dijumpai pada berbagai makanan  karena dipercaya mampu mempertahankan fertilitas. Kemampuan tersebut berhubungan  dengan adanya kandungan vitamin E yang cukup potensial disamping kandungan zat  lainnya (Astawan, 2003). Mekanisme kerja vitamin E, C dan selenium dalam menangkal terbentuknya radikal bebas pada membran sel yaitu, vitamin E sebagai antioksidan utama akan memberikan atom hidrogen secara cepat ke radikal bebas yang terbentuk pada membran sel. Hal  tersebut menyebabkan terbentuknya radikal vitamin E yang bersifat stabil. Radikal  vitamin E yang terbentuk diubah oleh vitamin C sehingga menyebabkan terbentuknya radikal vitamin C yang kemudian oleh selenium melalui induksi glutation peroksidase akan menetralkan vitamin C di dalam sel (Qauliyah, 2006)


B.            Mencit (Mus musculus)

Mencit merupakan hewan yang paling umum digunakan sebagai hewan  percobaan terutama dalam penelitian-penelitian yang dipelihara secara intensif  didalam laborotorium. Menurut Arrington (1972), mencit adalah hewan yang paling  banyak (40-80%) digunakan sebagai hewan percobaan laboratorium. Keunggulan  mencit sebagai hewan percobaan adalah sangat produktif dalam menghasilkan  keturunan dan pengelolaannya sangat mudah karena ukurannya yang kecil. Menurut  Moriwaki et al. (1994), beberapa keunggulan mencit sebagai hewan percobaan  adalah siklus hidupnya relatif pendek, jumlah anak per kelahiran banyak, variasi  sifat-sifatnya tinggi, mudah ditangani, serta sifat produksi dan reproduksinya  menyerupai hewan mamalia lain.
Menurut Storer et al. (1979), urutan taksonomi dari mencit adalah termasuk kedalam Filum Chordata, Kelas Mammalia, Ordo Rodentia, Famili Muridae, Genus  Mus, Spesies Mus musculus. Menurut Sumantri (1984), mencit putih memiliki bulu  pendek halus berwarna putih dan ekor berwarna kemerahan dengan ukuran lebih panjang daripada badan dan kepala. Mencit memiliki warna bulu yang berbeda dapat  disebabkan perbedaan dalam kondisi proporsi darah mencit liar dan memiliki  kelenturan pada sifat-sifat produksi dan reproduksinya (Nafiu, 1996).

C.    Sifat Reproduksi Mencit

Mencit memiliki sifat reproduksi yang tinggi yaitu polyestrus dan mengalami  oestrus post partum 14-28 jam setelah partus yang dapat dimanfaatkan untuk  meningkatkan produksi anak. Namun, jika induk langsung dikawinkan setelah  partus atau beranak maka dapat mengakibatkan kebuntingan yang lebih lama 3-5 hari  daripada lama kebuntingan sebelumnya dan kebuntingan terjadi pada saat induk  masih menyusui anak (Malole dan Pramono, 1989). Faktor lain yang dapat  mempengaruhi sifat reproduksi mencit adalah umur induk. Umur induk merupakan  faktor yang sangat menentukan terhadap jumlah sel telur dan respon hormon yang  dihasilkan (Sunarti, 1992). Ditambahkan oleh Day et al. (1991), bahwa penurunan  fertilitas dan jumlah anak per kelahiran terjadi pada mencit yang mengalami siklus  estrus tidak teratur saat umur setengah tua.

D.    Kebutuhan Pakan dan Minum Mencit

Ransum adalah makanan yang disediakan bagi hewan untuk kebutuhan 24
jam. Pakan seimbang adalah porsi makanan yang mengandung zat makanan yang  cukup untuk hidup pokok, pertumbuhann dan reproduksi (Anggorodi, 1985).  Aktivitas reproduksi membutuhkan energi yang lebih banyak dan diikuti dengan  peningkatan kebutuhan pakan suatu hewan, begitu pula sebaliknya ketersediaan  pakan dapat mempengaruhi proses reproduksi. McDonalds et al. (1995), berpendapat  bahwa malnutrisi juga berpengaruh pada induk sebab makanan untuk fetus  didapatkan dari induk. Jika induk kekurangan nutrisi untuk calon anak, maka nutrisi  itu akan dirombak dari tubuh induk, karena fetus merupakan prioritas utama untuk  penyaluran zat-zat makanan. Apabila hal tersebut terus terjadi maka kebutuhan  nutrisi calon anak pun menjadi tidak tercukupi dan dapat mengganggu perkembangan fetus.
            Malole dan Pramono (1989), menyatakan bahwa seekor mencit dewasa dapat mengkonsumsi pakan 15 g/100 g bobot badan/hari, sedangkan mencit membutuhkan  pakan berkadar protein diatas 14%. Mencit bunting atau sedang menyusui akan  makan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gizi fetus dan kebutuhan dirinya  sendiri. Konsumsi dapat meningkat dengan semakin meningkatnya berat badan,  karena pada umumnya kapasitas saluran pencernaan akan meningkat pula, sehingga  mampu menampung pakan dalam jumlah yang lebih banyak.   Komposisi zat-zat makanan dalam ransum yang diperlukan untuk memenuhi  kebutuhan mencit adalah protein kasar 20-25%, kadar lemak 10-12%, kadar pati 44- 55%, kadar serat kasar maksimal 4% dan kadar abu 5-6% (Smith dan  Mangkoewidjojo, 1988). Faktor lainnya yang juga sangat penting bagi mencit yaitu  air minum. Air minum yang diberikan untuk mencit harus bersih dan selalu tersedia  setiap saat ( ad libitum ) karena mencit mudah sekali kehilangan air dari tubuhnya.  Air minum yang diperlukan oleh setiap ekor mencit per hari berkisar antara 4-8 ml  (Malole dan Promono, 1989).

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 20123 , di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang

Materi

Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 ekor mencit putih  (Mus musculus) lepas sapih yang terdiri dari 5 ekor jantan dan 5 ekor betina  (dewasa kelamin) dengan perkiraan bobot badan awal 18-35 g. Peralatan yang  digunakan adalah timbangan elektrik dengan ketelitian 0,01 g, kotak kaca untuk  penimbangan mencit, drum penampung air, botol minum, sikat botol, gunting, sarung  tangan, masker, pinset dan alat tulis sedangkan bahan yang digunakan adalah sekam  padi.
Kandang yang digunakan berukuran 20x20 cm yang berisi 2 ekor jantan dan 2 ekor betina tiap kandangnya, sedangkan untuk kandang kontrok didisi 2 ekor mencit jantan dan betina. Pakan yang diberikan adalaha ransum biasa sebagai kontrol sedangkan pada perlakuakn diberi campuran Tauge kacang hijau (Vigna radiata) dengan kadar 10 % dan 20 %.  Dengan asumsi sebagai berikut:
Ransum kontrol ( R1)
Ransum kontrol + penambahan Tauge kacang hijau (Vigna radiata) 10 % (R2)
Ransum kontrol + penambahan  Tauge kacang hijau (Vigna radiata) 20% (R3)
Kemudian Mengamati setiapa hari tingkah laku reproduksi mencit, dan mengamati kelompok mana yang buntig terlebih dahulu, penelitian dilakukan selama kurang lebih 35 hari. Serta mengamati litter size pada kelahiran ditiap kelompok.

MODEL PERCOBAAN

Rancangan yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penambahan Tauge kacang hijau (Vigna radiata)  pada ransum terhadap sifat reproduksi mencit adalah Rancangan Acak  Lengkap (RAL). Perlakuan yang diteliti adalah pakan kontrol dengan taraf  penambahan ampas Tauge kacang hijau (Vigna radiata) 10% dan 20 % masing-masing dengan dua ulangan.
Model matematik menurut Walpole (1995) ;
 Yij: µ + i + εij
Keterangan :
 Yij : respon atas pengaruh pakan ke-i, ulangan ke-j
 µ : rataan umum
i : pengaruh taraf pemberian Tauge kacang hijau (Vigna radiata) dalam pakan yang ke-i ; 1=0;
2=3; 3= 6; dan 4 = 9%
εij : galat percobaan ; γ = 1, 2, 3, 4, 5.
Analisis Data
 Data yang diperoleh dianalisa dengan analisa sidik ragam atau Analysis of  Variance (ANOVA), kemudian dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey untuk  mengetahui perbedaan diantara perlakuan tersebut ( Mattjik dan Sumertejaya, 2002 ).

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta. Astawan, M. 2003. Mari Ramai-Ramai Makan Tauge. www.gizi.net. 8 April 2013.

Arrington, L. R. 1972. Introductory Science Laboratory Animal. The Breeding, Care  and Management of Experimental Animal Science. The Interstate Printers  and Publishing, Inc. New York.

Day, J. R., P. S. Lapolt, T. H. Morales, and J. K. H. Lu. 1989. An abnormal pattern  of embrionic development during early pregnancy in aging Rats. Biology  Reproduction. 41: 933-939.

McDonald, D. P., R. A. Edwards, J. F. Greendhalgh, and C. A. Morgan. 1995.
Animal Nutrition. 5th.Edit. Longman Scientific and Technical Copublished
with John Wiley and Sons, Inc., New york.

Malole, M.B. dan C.S. Pramono. 1989. Penggunaan Hewan Percobaan di  Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal  Tinggi. Pusat Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Moriwaki, K., T. Shiroishi dan H. Yonekawa. 1994. Genetic in Wild Mice. Its   Aplication to Biomedical Research. Japan ScientificSocieties Press. Karger,  Tokyo.

Nafiu, L. O. 1996. Kelenturan fenotipik mencit (Mus musculus) terhadap ransum  berprotein rendah. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Qauliyah.2006.Mekanisme Kerja Beberapa Antioksidan. http://astaqauliyah.blogspot.com. 8 April 2013.

Smith, B.J. dan Mangkoewidjojo, S. 1988. Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan  Hewan Percobaan di Daerah Tropis.UI-Press, Jakarta.

Sumantri, C. 1984. Aspek Genetika Beberapa Sifat Produksi Mencit (Mus musculus).  Skripsi. Fakultas Peternakan. Instituit Pertanian Bogor, Bogor.

Sunarti. 1992. Pengaruh umur induk terhadap perkembangan awal embrio mencit  (Mus musculus albinos) hasil superovulasi. Tesis. Program Pascasarjana,  Institut Pertanian Bogor, Bogor


Karakteristik estrus sebelum dan sesudah inseminasi pertama dan kesuburan sapi setelah estrus disinkronkan menggunakan GnRH, PGF 2a, dan progesteron


Karakteristik estrus sebelum dan sesudah inseminasi pertama dan kesuburan sapi setelah estrus disinkronkan menggunakan GnRH, PGF 2a, dan progesteron
Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan: 1) kemampuan P4, GnRH, atau keduanya, sebelum injeksi PGF2α untuk menyinkronkan estrus, dan 2) variabilitas karakteristik estrual dalam sapi perawan sebelum AI pertama mereka dan dengan estrus yang memenuhi syarat berikutnya sebelum AI kedua mereka.
Hal ini bertujuan  untuk menentukan kesuburan dari sapi setelah sinkronisasi estrus menggunakan PGF2α, didahului oleh progesteron (P4), GnRH, atau keduanya, dan untuk menguji variabilitas karakteristik estrual dalam sapi sebelum pertama dan kedua AI. Susu (n = 247) dan daging sapi (n = 193) sapi dialakuakan secara acak untukmasing-masing tiga perlakuan: 1) 50 g GnRH (disuntikkan?im) diberikan pada d -7 diikuti 25 mg PGF2α(im) dari d -1 (GnRH + PGF, dimodifikasi Pilih Synch protocol); 2) penempatan suatu progesteron intravaginal (P4)-releasing insert pada d -7, PGF2α pada d -1, dan masukkan penghapusan pada d 0 (P4 + PGF);? dan 3) 50 g GnRH ditambah P4 insert pada d -7, diikuti 25 mg PGF2α pada d -1, Dan masukkan penghapusan pada d 0 (P4 + GnRH + PGF). Karakteristik estrus diperiksa sebelum pertama AI dan sebelum AI memenuhi syarat berikutnya (18-26 d kemudian), termasuk durasi estrus, jumlah kejadian berdiri, dan jumlah dan durasi tertentu dari peristiwa berdiri. Selain itu, semua sapi diperiksa secara visual setidaknya dua kali sehari untuk estrus. Sampel darah diambil pada d -7, -1, dan 0 untuk penentuan P4, dan kehamilan Status didiagnosis dengan ultrasonografi 27-34 hari setelah AI. Tingkat terdeteksi estrus kurang (P <0,05) dalam susu dibandingkan sapi daging sapi, dan lebih besar (P <0,05) pada sapi diobati dengan P4. Pola konsepsi dan kehamilan tarif antara perlakuan berbeda antara daging sapi dan sapi perah (pengobatan × interaksi kelompok, P <0,05). Pada sapi perah, angka konsepsi dan kehamilan terbesar dengan P4 + PGF, diikuti oleh P4 + GnRH + PGF dan GnRH + PGF, masing-masing. Hal sebaliknya diamati antara perlakuan dalam sapi potong. Administrasi P4 tanpa injeksi sebelumnya GnRH menghasilkan angka kehamilan terendah di sapi sapi. Dari dihitung karakteristik perilaku seksual selama disinkronkan estrus, jumlah kejadian berdiri dan jumlah durasi standing event yang lebih besar (P <0,01) dibandingkan yang diamati selama estrus memenuhi syarat berikutnya sebelum kedua AI, sedangkan durasi estrus tidak terpengaruh.
Prosedur untuk Mendeteksi Estrus dan Inseminasi Jumlah dan durasi total peristiwa berdiri, dan dari setiap peristiwa berdiri individu, durasi estrus (interval antara pertama dan terakhir standing event), dan interval dari injeksi PGF2α ke estrus ditentukan menggunakan sistem deteksi estrus elektronik hanya sapi perah (HeatWatch, DDX, Inc, Denver, CO). Perangkat deteksi yang melekat pada setiap Holstein sapi sebelum d -7 dan dipelihara di tempat sampai kehamilan didiagnosis. Selain itu, dimulai pada d -1, semua sapi perah yang diamati secara visual dua kali harian untuk tanda-tanda estrus. Sapi sapi yang diamati untuk estrus beberapa kali sehari pada siang harin setelah injeksi PGF2α. Semua sapi diinseminasi antara 6 dan 18 jam setelah pertama kali terdeteksi estrus. Pada setiap lokasi, AI dilakukan oleh dua teknisi. Kehamilan didiagnosis antara 27 dan 34 hari setelah inseminasi dengan visualisasi cairan dan / atau embrio menggunakan transrectal ultrasonografi.
Angka konsepsi dan kehamilan tidak berbeda antara susu sapi dan daging sapi, tetapi pengobatan × kelompok interaksi yang terdeteksi (P <0,05; Tabel 1). Dalam Angka konsepsi yang tidak terpengaruh oleh pubertas status sapi pada d -1 (Tabel 2). Namun, kehamilan tarif berkurang (P <0,05) pada sapi tanpa CL pada d -1 terlepas dari status pubertas mereka. Lebih (P <0,01) susu (98%; 237/247) daripada daging sapi (93%; 180/193) sapi yang pubertas. Dari 18 sapi yang tidak pubertas pada d 0, 11 diinseminasi selama minggu pemuliaan (120 jam setelah PGF2α). Dari mereka 11 diinseminasi prapubertas sapi, empat (36%) dikandung dari inseminasi pertama, sedangkan 57% dari semua pubertas sapi dikandung. Selama minggu peternakan, dua nonpubertal sapi dikandung (2 dari 3) di P4 + PGF pengobatan, dan satu nonpubertal sapi tidak diinseminasi.
            Peningkatan proporsional dalam kegiatan estrual untuk sapi sebelum layanan pertama dibandingkan dengan sebelum layanan kedua bisa hanya dijelaskan oleh sapi lebih selaras pada estrus pertama. Hampir 80% dari semua gunung percobaan yang dibuat oleh perempuan dan estrual 90% dari semua hewan dipasang dalam kelompok umum adalah estrual. Dalam studi yang sama, ditunjukkan bahwa jumlah hewan di estrus meningkat (seperti yang akan menjadi kasus untuk estrus disinkronkan), peningkatan proporsional terjadi dalam jumlah tunggangan per jam. Berdiri maksimal kegiatan per cowoccurs ketika empat atau lebih perempuan yang bersamaan di estrus. Namun, dalam penelitian kami, seekor sapi muda yang berulang ke estrus kedua, rata-rata, di hadapan sedikitnya empat sapi estrual lainnya, menunjukkan bahwa aktivitas estrual nya seharusnya tidak telah diganggu oleh kurangnya estrual memadai mitra.
                 Tidak ada perbedaan dalam tingkat konsepsi sapi perah terdeteksi di antara interval dari onset estrus yang AI meskipun tren untuk konsepsi ditingkatkan ketika inseminasi dilakukan lebih dekat (> 16 jam setelah onset estrus) dengan waktu ovulasi (berdasarkan perkiraan 27,6 jam setelah onset estrus [terdeteksi oleh sistem elektronik yang sama estrus-deteksi], dan selanjutnya ditentukan oleh pemeriksaan USG diulang. Kecenderungan umum respon ini tidak konsisten dengan yang dilaporkan untuk sapi perah dan sapi perah, di mana angka konsepsi yang optimal cenderung terjadi antara 4 dan 12 jam setelah onset estrus untuk sapi dan sebelum 16 jam dalam sapi.
                   Angka konsepsi cenderung kurang di PGF-diperlakukan sapi sapi dibandingkan mereka yang diobati dengan PGF + P4 insert; yang sebaliknya juga berlaku untuk susu sapi (Lucy et al., 2001). Hasil tersebut bertentangan dengan apa yang kita diamati pada kami daging sapi dan sapi perah setelah pengobatan dengan P4 + PGF dan GnRH + PGF. Konsisten dengan hasil dalam sapi sapi kami laporan lain di mana ternak diobati dengan progestin (jangka pendek) mengalami penurunan konsepsi tingkat. Perbedaan sapi sapi bisa dijelaskan oleh efektivitas GnRH-induce omset atau GnRH-diinduksi ovulasi dari folikel setelah d -7, sehingga mencegah pembentukan dari folikel dominan terus-menerus dalam sapi tanpa CL atau mereka mendekati akhir fase luteal mereka pada d -7. Oosit ovulasi dari folikel persisten adalah diketahui kurang subur.
Sebaliknya, perumusan folikel persisten mengandung oosit kualitas berpotensi kurang tidak tampaknya terjadi pada sapi perah kami di mana konsepsi rateswere terbesar di PGFtreatment + P4. Mungkin folikel persisten beberapa terbentuk di hadapan P4 menyisipkan karena CL fungsional hadir dalam susu sapi dibandingkan dengan yang terjadi pada sapi sapi sama diobati. Massa P4 diserap dari insert per tubuh atau metabolisme berat badan adalah kemungkinan berbeda karena variasi dalam berat badan rata-rata sapi daging sapi dan susu cukup besar, mulai dari 50 hingga 150 kg.
              Sinkronisasi estrus menggunakan PGF2α, didahului dengan P4, GnRH, atau keduanya, diproduksi jelas berbeda tingkat kehamilan baik sapi yang menghasilkan daging maupun yang menghasilkan susu. Hanya kurang dari 50% dari seluruh sapi diperlakukan diimpregnasi berhasil mengikuti perawatan. Kemungkinan faktor terkait dengan kehamilan awal tetapi mungkin hilang mengurangi perilaku seksual berikutnya, berkaitan dengan pertama estrus postinsemination memenuhi syarat. Lebih lanjut Penelitian ini diperlukan untuk menentukan apakah spekulasi ini benar. Penelitian saat ini dilakukan dengan sebelumnya digunakan menyisipkan P4. Meskipun tindakan pencegahan yang diambil untuk membersihkan dan mensterilkan sisipan P4 sebelum digunakan kembali mereka, ada jaminan kemurnian mereka, potensi, atau sterilitas adalah dibuat juga tidak kami merekomendasikan penggunaan kembali mereka.




how??

lalu bagaimana jika cinta itu datang terlalu cepat..
lalu bagaimana jika harapan itu harapan palsu..
lalu bagaimana jika itu tidak sesuai yang aku pikirkan..
lalu bagaimana jika aku salah menyimpulkan..
lalu bagaimana jika aku berharap yang lebih,,
lalu bagaimana jika setiap kata itu hanya sekedar kata tanpa makna..
lalu bagaimana jika kekecewaan itu muncul...
lalu bagiamana jika semuanya jauh dari pemikiranku..
aku pun tak tau,,,
akupun tak mampu,,
akupun tak tau apa yang kau mau...

Selasa, 19 Maret 2013

mungkin ini pengalaman tergokil yang pernah kita alami...
terharu,,terkesan,,teralay dan ter ter yang lainnya..
tentang PKL..sensitif banget nih kalo ngomongin masalah PKL.
dari awal kita nyari tempat,,udah ayem ayem aja nih jhon,,,
H- seminggu kita dikabari kalau kita ditempatkan di purbalinngga... lalu kita disuruh ngirim surat kepusat,,ternyata kita ditempatkan di gempol (cerita selengkapanya Erma yang tahu)..Bu ketua sih..

Ternyata keberangkatan kami meninggalakan sesuatu yang tidak membuat berbagai pihak mengikhlaskan keberangkatan kami,,,siapa mereka,,,,,,,,,,,SENSOr
to be continued,,